Selasa, 12 Juni 2012

Contoh - Contoh Cerpen

Diposkan oleh Zahrah R♣ di 08.20
Yang Tak diundang
Mama mendapati Alia tengah melamun di kamar. Wajahnya kelihatan sedih. Padahal biasanya setiap pulang sekolah, Alia langsung mengganti pakaian dan makan siang tanpa perlu diingatkan.

“Alia, kenapa murung begitu? Kamu sakit?” Mama menyentuh kening Alia. Alia berusaha tersenyum saat menyadari kehadiran mama.

“Ah, tidak apa-apa, ma,” jawab Alia singkat.

Mama menarik napas panjang, kemudian berkata lagi.

“Alia wajahmu tak bisa berbohong. Sekarang ceritakan, apa kamu punya masalah di sekolah tadi?”

Alia tak langsung menjawab. Ia bimbang mengatakan sebenarnya. Tetapi, apa salahnya kalau ia cerita?

“Mama tahu Regi, teman sebangkuku, kan? Tiga hari lagu ia merayakan ulang tahun. Semua anak di kelasku diundang. Tapi aku tidak,” ujar Alia sedih.

“Kenapa kamu tidak diundang?”

Justru itu, Alia tidak tahu. Mungkin dia masih marah karena Alia mendapat nilai tertinggi ulangan bahasa Inggris. Regi, kan, anak yang paling jago berbahasa Inggris di kelas.”

“Mama lihat, Regi anak yang baik. Masa Cuma gara-gara itu kamu tak diundang? Bisa jadi lupa. Kamu enggak coba bertanya kepadanya?”

“Buat apa? Enggak diundang, kok, malah nanya? Aku gak mau!” cetus Alia dengan suara meninggi. Mama membelai rambut Alia.

“Ya sudah, tak usah dimasukkan ke dalm hati. Berbesar hati saja kalau memang tak diundang.

Sekarang kamu ganti baju dulu, terus makan. Mama sudah siapkan menu kesukaanmu,” ujar mama akhirnya.

Wajah Alia masih saja memberengut. Tetapi, ia turuti saja nasehat Mama dan beranjak dari tempat tidur. Terasa perutnya semakin keroncongan.

Hari ini, Regi kelihatan sibuk dengan persiapan ulang tahunnya. Dia mengingatkan teman-teman agar datang. Dengar-dengar, pestanya pun diselenggarakan oleh jasa event organizer. Maksudnya, dikerjakan oleh sekelompok orang yang ahli dalam membuat acara. Anak-anak semakin penasaran. Seperi apa, sih, acaranya nanti?

Regi memang orang kaya. Semua anak senang bergaul dengannya. Ia selalu membagikan makanan, permen, coklat, atau buku-buku kepada teman-temannya. Prestasinya pun sangat baik dikelas, dia selalu mendapat juara kelas lho... (Hebat banget ya….!)

Alia hanya bisa mendengar kehebohan teman-temannya tanpa semangat. Hati kecilnya bertanya-tanya. Benarkah Regi tidak mengundang dirinya hanya karena dia mendapat nilai tertinggi ulangan bahasa Inggris di kelas?

Alia ingat saat melihat ekspresi wajah kekecewaan di wajah Regi saat ia hanya mendapat nilai 83 dan Alia mendapat nilai 100. Alia tak menyangka kalau Regi tak sebaik yang ia kenal.

Malam itu, Alia sedang duduk gelisah di depan tv. Tak satu acara pun bisa menarik perhatiannya. Sebentar-sebentar ia mengganti channel menggunakan remote. Mama yang dari tadi memperhatikan, datang menghampiri.

“Kamu masih memikirkan tentang ulang tahun Regi ya?”

“Ah, kenapa mesti dipikirin?” ujar Alia asal saja.

Alia bangkit dan beranjak menuju kamarnya. Ia merasa sedih, dan tidak ingin mama membahasnya lagi. Ia lalu memandangi kado untuk Regi yang ia buat 1 minggu yang lalu.

“Alia, ada yang datang, nih,” suara Mama memanggil. Alia tersentak. Ia mengucek-ngucek matanya dan berjalan menuju pintu.

“Siapa?” 

“Lihat saja sendiri.” Mama pun berlalu.

Alia penasaran, bergegas ke ruang tamu. Di sana ia melihat Regi. Masih memakai baju pesta. Cantiiikkk sekali.Tetapi, raut khawatir tampak dari wajahnya.

“Alia, kamu sakit? Sedih melhat kamu tak datang ke acaraku.”

Alia memandang Regi dengan tatapan tidak mengerti. Sejenak ia merasa bingung dengan ucapan Regi itu. Lama baru ia bisa menjawab.

“Maaf, Regi, aku… aku, kan, tak diundang.”

“Tak mungkin! Semuanya aku undang, kok. Apalagi, kamu, kan, teman sebangku aku.”

“Aku pikir kamu masih marah sama aku karena aku mendapat nilai bahasa Inggris tertinggi, makanya aku tak diundang,” ujar Alia.

Mendengar ucapan itu, Regi terlihat kaget.

“Alia, masa aku marah hanya karena hal itu? Aku kecewa saja, karena aku tidak dapat berkosentrasi waktu belajar. Waktu itu, aku terlalu memikirkan acara ultahku ini,” jawab Regi. “Maafkan aku ya, Alia. Mungkin aku yang lupa memeriksa semua undangan. Ini aku bawakan sesuatu untukmu.”

Dengan tulus, regi menyerahkan bingkisan ulang tahun dan kue-kue pada Alia. Raut muka Alia pun berubah jadi sedikit malu.

“Justru aku yang minta maaf karena telah berburuk sangka kepadamu,” Alia pun merangkul teman sebangkunya itu.

“O ya, aku telah menyiapkan kado untukmu. Tunggu sebentar, ya.” Alia berlari ke kamarnya.

Di luar, mama, papa, dan supir Regi tersenyum melihat tingkah keduanya.

(Oleh Boyke Abdillah dengan perubahan)

 

MISTERI LEMBAR PARTITUR
Minggu pagi ini, Putri benar-benar sibuk. Setumpuk buku catatan dan beberapa buku pelajaran telah siap di atas meja belajar. Tulisan Maaf, Sibuk Belajar’ pun telah tergantung di handle pintu kamar. Semua ini bermula karena Bu Titik, wali kelasnya, seminggu yang lalu berkata padanya, bahwa nilainya sampai tengah semester ini tertinggal jauh dari Siska. 

Sebenarnya, dia tidak peduli dengan nilai Siska yang tiba-tiba menanjak. Baginya, siapapun berhak menjadi siswa terbaik di kelas lima. Tidak terkecuali Siska, sahabat dan teman belajarnya sejak kelas satu. Tetapi, peristiwa kemarin di kantin sekolah saat istirahat telah mebuat keputusan Siska telah berubah. Perlakuan dan ucapan sinis Siska membuat semangat belajar Putri kembali terlecut.

“Sorry, Put, mulai hari ini, aku tidak akan belajar bersamamu lagi. Aku sudah merasa lebih pintar tanpa harus belajar denganmu. Tahun ini, aku akan menjadi juara kelas menggantikanmu,” ucap Siska di kantin. Putri terkejut mendengarnya. 

UAS hari pertama selesai. Putri menjadi siswa terakhir di dalam kelas. Saat teman-temannya berebut untuk mengumpulkan kertas jawaban, Putri memilih untuk mencek ulang kertas jawabannya. Ketika melewati bangku Siska, ia melihat di laci bangku terdapat kertas berwarna pink yang berisikan not angka 4/4. Putri penasran.

“Pasti milik Siska. Mengapa partitur itu tidak diberi judul lagu?” batin Putri.

Ternyata sampai UAS hari terakhir, Siska telah meninggalkan delapan kertas partitur di laci bangkunya. Diam-diam dia mengambil kertas partitur tersebut.

Dalam seminggu ini, pelajarn Bu Titik tidak begitu padat. Bu Titik menggunakan jam mengajar unuk mengoreksi hasil ulangan bersam anak-anak. Nilai Siska benar-benar sempurna! Ia mendapat nilai sepuluh pada semua mata pelajaran.

“Selamat, Sis. Selangkah lagi, kamu akan mendapatka juara kelas seperti yang kamu inginkan,” Putri mengulurkan tangan kearah Siska. Tetapi, Siska tak menghiraukan. Ia pergi begitu saja. Saat itulah, Putri merasa, bahwa Siska telah melupakan persahabatan mereka yang dimulai sejak kelas satu.

Untuk mnghibur kegundahan hatinya, putri menuju kantin sekolah. Diam-diam, ia mengeluarkan partitur tersebut. Ia masih penasaran dengan lembar-lembar pink tersebut. Ia mencoba untuk melagukan not-not angka tersebut.

“Lagu apa yang baru kamu senandungkan Putri?” tiba-tiba, Ryan, kakak kelas enam, telah berada disampingnya. Putri memperlihatkan kertas partitur berwarna pink tersebut.

“Kok, tanpa judul lagu?” Solmisasinya juga hanya empat nada. Terdengar sumbang dan aneh!” ucap Ryan.

Ryan mengembalikan kertas partitur tersebut sambil mengunyah bakso yang penuh dimulutnya.

“Aku ingat! Heru, teman sekelasku, juga pernah menulis partitur seperti itu. Dari siapa kamu memperolehnya?” Tanya Ryan. Putri pun menceritakan kejadiannya.

Sepulang sekolah, Ryan mampir ke rumah Putri. Mereka berdua memelototi kertas pink yang berisi partitur tersebut. Tiap lembar memiliki 50 not angka yang disusun dalam empat ketukan.

“Hmm, melihat partitur ini, aku jadi ingat kebiasaan Bu Titik yang suka mengubah jawaban a, b, c, dan d menjadi do, re, mi, dan fa!” ujar Putri tiba-tiba.

“Pasti partitur ini adalah kunci jawaban soal ulangan! Bukankah setiap lembar partitur ini memiliki 50 not angka? Sedangkan setiap soal UAS ada 50 soal? Dan pilihan jawaban dari a, b, c, dan d dijadikan menjadi do, re, mi, dan fa!” teriak Ryan.

Esoknya, Ryan dan Putri menyampaikan hal tersebut kepada Bu Titik. Sebenarnya, ia tidak mau mengadukan kecurangan yang Siska lakukan, karena ia masih menganggap Siska sebagai sahabatnya. Tapi, ia beranggapan hal ini harus segera dihentikan.

Ternyata, ia memulai kecurangan ini sejak awal mereka duduk di kelas lima. Dengan di bantu Heru, kakak kelas enam, Siska dengan mudah mendapatkan kunci jawaban tersebut. Supaya tidak ketahuan, ia menuliskan kunci jawaban tersebut berupa not-not angka dalam sebuah partitur. 

Akhirnya, Bu Titik tidak mengakui semua nilai yang didapat Siska. Dan dia harus mengulang semua ujiannya. Siska pun berjanji tak akan berbuat curang lagi.

“Maafkan aku, karena aku telah berbuat curang dalam ujian ini. Maukah kamu memaafkanku, Putri?” Sesal Siska.

“Aku telah memaafkanku. Bukankah sahabat sejati harus saling mengingatkan?” jawab Putri sembari melihat kearah Ryan.

Ryan lalu mengacungkan kedua jempol tangannya kepada Putri.  

(Oleh Irzen Basri dengan perubahan)


 
PERSAHABATAN BIBO DAN PITO
Di sebuah hutan hiduplah seekor musang bernama Bibo dan seekor kelinci bernama Pito.
 Mereka sangat dekat dan bersahabat. Setiap pagi, mereka selalu mengelilingi hutan untuk mencari makanan bersama. Biasanya, mereka akan mudah mendapatkan makanan jika musim hujan tiba. Tapi terkadang, saat sedang mencari makan, mereka selalu mendapat gangguan dari manusia yang selalu ingin memburu mereka.

Suatu hari, di saat pagi, mereka pun memulai hari seperti biasa dengan berkeliling hutan.
“Bibo, ayo kita berangkat… mumpung masih pagi, jadi kita bisa bebas dari pemburu,” ajak Pito.

“Iya, kamu benar, ayo kita berangkat!” sahut Bibo.

Mereka pun berangkat untuk mencai makanan.

Kebetulan saat ini sedang hujan, jadi tumbuhan di hutan pun tumbuh dengan subur. Sepanjang perjalanan, ia juga bertemu dengan teman-temannya yang ingin mencari makanan. Perjalanan mereka pun aman, karena belum ada pemburu yang terlihat di sekitar hutan. Setelah mereka berkeliling, akhirnya mereka menemukan tumbuhan wortel dan pohon apel yang cukup banyak.

“Hei, Pito, lihat kesebelah sana. Ada pohon apel dan wortel yang subur sekali. Ayo kita petik di situ saja,” ujar Bibo.

“Wah, benar. Ayo cepat kita ke sana!” seru Pito.

Mereka pun menghampiri pohon tersebut dan hendak memetik apel dan wortel yang ada di sana. Tanpa mereka sadari, mereka elah masuk ke dalam jebakan pemburu. Sebelum mereka berhasil memetik, Bibo dan Pito masuk ke dalam jaring yang sudah di persiapkan oleh pemburu.

“Aduh, bagaimana ini? Ternyata kita masuk ke dalam perangkap pemburu!” ujar Bibo.

Si pemburu yang mengetahui kalau jebakan yang dipasangnya berhasil, langsung menghampiri mereka.

“Haha, kena kalian! Rasakan, kalian akan ku bawa untuk dijual,” kata si pemburu.

Bibo berusaha keluar dengan menggigit tangan si pemburu. Karena kesakitan si pemburu akhirnya melepaskan perangkapnya dan Bibo berhasil keluar dari pernagkap tersebut.

Tapi sayang, Pito masih terperangkap dan di bawa oleh si pemburu.

“Sudah, kamu kabur saja, cepat! Jangan pikirkan aku,” kata Pito.

Si pemburu dengan segera membawa Pito dengan mobilnya. Tanpa tinggal diam, Bibo memanggil Bumbum, si beruang. Mereka pun mengejar mobil yang dikendarai oleh si pemburu. Dengan badannya yang besar, Bumbum merubuhkan sebuah pohon besar untuk menghalangi mobil yang dikendarai oleh si pemburu. Tak lama kemudian, mobil si pemburu pun melintas.

Karena si pemburu kaget melihat sebuah pohon besar menghalangi jalan. Tanpa sempat menginjak rem, akhirnya mobil itu pun menabrak batang pohon tersebut dan terpental jauh. Sedangkan Pito berhasil keluar dari jendela mobil tersebut.

“Pito, bagaimana kamu bisa keluar dari perangkap itu?” Tanya Bibo da Bumbum.

“Tadi di dalam mobil, aku berusaha membuka prangkap. Tapi ternyata, si pemburu lupa menutup kandang perangkap itu, jadi aku bisa keluar dengan mudah. Terima kasih ya, kalian sudah menyelamatkan aku,” kata Pito.

“Iya Pito, saling menolong itu kan sudah menjadi kewajiban semua makhluk hidup, apalagi kamu adalh sahabat aku,” kata Bibo.

Mereka pun melanjutkan mencari makanan dengan hati-hati dan pulang dengan riang.

(Dari majalah SUPER KIDS dengan perubahan)

0 komentar:

Poskan Komentar

 

✿Jaraa's Blog✿ Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review